Your future doctor

Stay calm. Stay healthy. And welcome to my life
Follow Me






















Sebuah poster edukasi dari puskesmas di Inala, Queensland, Australia. Poster ini menarik menurut saya karena edukatif terutama untuk anak-anak pedalaman yang menjadi sasaran program ini. Untuk menarik minat dan atensi dari anak-anak memang perlu gambar atau hal-hal yang lucu. Selain itu juga dengan metode seperti ini, diharapkan edukasi akan lebih efektif.



Oleh: Aditya Rifqi Fauzi

Salah satu video dari tim KKN UGM di Papua, Kabupaten Puncak, Distrik Ilaga membuat saya tertarik dan kagum dengan tim KKN ini, karena kesulitan medan dan kondisi masyarakat yang tertinggal tidak membuat mereka putus ide untuk ikut mengembangkan daerah ini. Ilaga adalah kabupaten tertinggi di Papua, dengan ketinggian lebih dari 2500 meter di atas permukaan laut, membuat program-program pengadaan barang sulit dilakukan, Salah satu yang saya soroti adalah program yang dibuat oleh kluster kesehatan, cukup sederhana dan feasible untuk dilakukan seperti edukasi gizi untuk pasien, edukasi perilaku hidup bersih sehat yang menyasar ke anak-anak sd, dan pemberian makanan tambahan bagi anak-anak (vitamin, dsb). Konsep public health disini haruslah ditekankan terutama untuk prevensi penyakit. Menurut saya, di lapangan, penerapan public health seperti di Ilaga ini haruslah secara holistic, maksut saya adalah bukan hanya menyentuh aspek kesehatan saja, namun harus menyentuh sisi humanis dan kebudayaan lokal. Dapat dilihat di video bahwa tim harus ikut melebur dalam suasana gotong royong dan kekeluargaan di Ilaga, mulai dari mengikuti upacara adat hingga makan bersama. Pun kerjasama dengan kluster lain, seperti kluster pertanian, ikut mengedukasi warga cara mengolah tanaman menjadi makanan. Hasilnya pun bisa dijual dan dapat membantu kehidupan warga, secara tidak langsung juga ikut memperbaiki taraf kehidupan dan kesehatan warga setempat.


Oleh: Aditya Rifqi Fauzi

Permasalahan kesehatan masih menjadi kendala di Papua Nugini. Studi kasus ini menyebutkan bahwa berdasarkan WHO, 50% kematian disebabkan oleh non-communicable disease. Warga di pelosok mengalami kesulitan dalam mengakses pelayanan kesehatan primer, terlebih lagi masih ada masalah berupa fasilitas minim dan rendahnya kualitas pelayanan. Kesadaran pemerintah akan hal ini membuat pemerintah mendorong LSM-LSM untuk turut serta turun tangan. Kelebihan kerjasama pemerintah dengan LSM antara lain, dapat mencapai area yang lebih dalam dari pemerintah, dan lebih berpengalaman dalam menyediakan pelayanan kesehatan secara efektif bertahun-tahun. Dengan dibentuknya kerjasama ini, LSM juga dapat berperan sebagai penyedia layanan kesehatan di komunitas.Menurut saya bentuk kerjasama ini sangatlah bagus karena membantu warga Papua Nugini mendapat pelayanan kesehatan di tengah terbatasnya kemampuan pemerintah dalam mengkover rakyatnya. Namun di satu sisi saya juga masih skeptis dengan hal ini, karena di tanah air Indonesia sendiri saya masih jarang mendengar atau menemukan LSM yang memang memiliki concern dalam mengembangkan dan memperbaiki kesehatan di tanah papua. Lalu bagaimana sebaiknya? Apakah cukup mengandalkan LSM saja atau masih ada komponen yang kurang untuk mewujudkan Sustainable Development Goals yang sudah digembor-gemborkan di dunia atas gagalnya MDGs di tahun 2015? Apakah kita sebagai mahasiswa hanya akan menjadi penonton atau menjadi pelakunya? Sumber: http://www.adb.org/results/improving-health-care-services-papua-new-guineaOleh: Aditya Rifqi Fauzi

Satu lagi inovasi yang menarik dari puskesmas di Nevada yaitu klinik gigi berjalan bermana Ronald McDonald Care Mobile. Klinik gigi berjalan ini menyasar ke anak-anak di pedesaan. Berfokus pada kegiatan preventif dan advokasi ke anak-anak di komunitas yang mana perawatan giginya masih terbatas. Pelayanan yang diberikan antara lain: restorasi dan prevensi, pemeriksaan gigi, pembersihan, penambalan, pengobatan fluoride, ekstraksi, x-ray dan edukasi kebersihan gigi. Pelayanan ini tentu tidak gratis, tapi kebanyakan asuransi kesehatan diterima oleh puskesmas ini.

Oleh: Aditya Rifqi Fauzi
Jarak antara pasien dengan fasilitas kesehatan tidak membuat salah satu puskesmas di Nevada, Amerika menciutkan niatnya untuk memastikan kondisi warganya sehat. Muncul inovasi baru dimana seluruh wanita berusia di atas 40 tahun harus diskrining kanker payudara. Mammovan menjawab tantangan itu dengan cara membawa mammogram mobile ke daerah pelosok untuk menjangkau warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan dikarenakan jarak. Menurut saya inovasi ini sangatlah bagus dan perlu diterapkan di Indonesia terutama bagi daerah-daerah tertinggal dengan prevalensi kanker payudara yang cukup tinggi.


Oleh: Aditya Rifqi Fauzi
Menghadapi masalah kesehatan di Papua tidak bisa dipandang sama seperti di Jawa. Perbedaan kondisi lapangan seperti topografi yang beraneka ragam, sulitnya akses kendaraan, kurangnya perekonomian masyarakat serta tingkat pendidikan yang masih rendah. Walikota Jayapura memerintahkan kepala dinas kesehatan untuk mengubah sistem pelayanan menjadi “tidak umum” seperti layaknya di pulau Jawa. Ia meminta agar tenaga kesehatan seperti dokter agar mau berkunjung mendatangi pasien satu persatu. Pasien yang sakit parah harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk mendapat pelayanan segera.
Saya akan meminta sekaligus memerintahkan Dinas Kesehatan Kota Jayapura untuk mengubah sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat.” ujar Benhur, walikota Jayapura
Namun menurut saya hal ini hanyalah sebuah lelucon atau angan belaka tanpa adanya cara konkrit untuk benar-benar mewujudkannya. Memang betul seharusnya penanganan masalahnya salah satunya dengan program ini, namun kondisi riil juga perlu dipikirkan. Salah seorang kakak kelas saya dokter alumnus FK UGM yang sudah pernah menjalani internship di Papua saja mengeluhkan sulitnya akses ke rumah sakit bila pasien dikirim dari pedalaman. Ibu yang mau melahirkan saja yang mau dirujuk ke RS terdekat butuh waktu lebih dari 5 jam via jalur sungai. Dan pada akhirnya tetap tidak bisa tertolong. Kondisi ini sungguh memprihatinkan, seharusnya pemerintah bukan hanya berfokus pada tujuan programnya, namun lebih ke proses bagaimana cara mengimplementasikan program yang dicanangkan sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Oleh: Aditya Rifqi Fauzi
Membaca berita ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi? Jumlah tenaga kesehatan di Papua memang terbatas, tapi apakah juga tidak mempunyai sertifikasi?
12 puskesmas bukanlah jumlah yang sedikit, padahal pelayanan primer seharusnya sudah tidak boleh diragukan lagi kualitasnya.
"Salah satu syarat untuk menuju Puskesmas akreditasi adalah tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas harus memiliki surat tanda terakreditasi dan surat izin kerja," ujar Benhur, walikota Jayapura.
Kesehatan memang masih menjadi momok bagi pemerintah Papua, sudah banyak usaha yang dilakukan mulai dari memberi beasiswa bagi calon tenaga kesehatan untuk bersekolah, namun nampaknya hal tersebut belum terlihat hasilnya.
Di era JKN seperti sekarang, penguatan pelayanan di tingkat faskes primer memang menjadi tujuan utama. Namun dari segi tenaganya pun juga harus diperhatikan. Hal ini semoga dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah Indonesia khususnya di Papua akan pentingnya kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan.
Referensi: http://www.antarapapua.com/berita/455582/12-puskesmas-di-jayapura-belum-terakreditasi?utm_source=related_news&utm_medium=related&utm_campaign=news

Oleh: Aditya Rifqi Fauzi

Contact Form

Name

Email *

Message *

Translate