
Semua kematian memerlukan identifikasi yang jelas untuk membuat surat kematian. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi adalah dengan identifikasi wajah, karakteristik tubuh, baju, aksesoris, antropologi forensic, golongan darah, odontology forensic, sidik jari dan DNA.
Inti dari identifikasi personal adalah membandingkan antara
data post mortem dan antemortem yang didapat dari keluarga, rumah sakit, dll.
Pada jenazah yang sudah hancur dan hanya tersisa tulang belulang, proses
identifikasi menjadi lebih sulit, oleh karena itu kita dapat memanfaatkan salah
satu metode yang akan kita pelajari, yaitu DNA fingerprinting.
Sedikit mengulang materi SMA tentang hukum Mendel, apabila individu
homozigot dominan (AA) dikawinkan dengan homozigot resesif (aa) maka akan dihasilkan
keturunan generasi pertama yang seluruhnya heterozigot (Aa). Apabila keturunan
pertama yang heterozigot ini dikawinkan dengan sesama heterozigot maka akan
dihasilkan keturunan yang bermacam-macam yaitu 25% AA, 50% Aa, dan 25% aa.
Pemeriksaan sampel untuk forensic salah satunya
seperti yang sudah kita ketahui yaitu dengan menggunakan DNA. Di dalam sel terdapat 2 macam DNA, yaitu yang terdapat di inti sel (DNA kromosom) dan yang terdapat di sitoplasma (DNA mitokondria).
Kromosom
merupakan untaian rantai DNA yang sangat panjang yang terdiri dari nukleotida.
Ada 4 macam nukleotida yaitu adenine, timin, guanine, dan sitosin.
Keempat macam nukleotida ini saling berkomplementer, jadi adenine berpasangan
dengan timin, dan guanine berpasangan dengan sitosin. Sifat pasangan nukleotida
ini saling ber komplementer, jadi kalau ikatan ini terlepas dan hanya tersisa
satu pita, maka kita pasti bakalan tau siapa pasangannya yang hilang itu.
Pada jaman dahulu, saat belum
ditemukan DNA, untuk mencari kecocokan hubungan kekerabatan digunakan golongan
darah. Golongan darah dibagi dengan sistem ABO dan Rhesus. Seperti yang ada di
lekcer, kasusnya adalah seorang bayi golongan darah B+ punya ibu golongan darah
A+. Ada 3 tersangka masing2 bergolongan darag AB+, O+, DAN A+. Lalu siapakah
bapaknya? Kita jelas bisa mengeksklusi yang bergolongan darah O+ dan A+, karena
ga mungkin kan punya anak B+ dengan ibu yang A+, meskipun andaikata mereka
semua sama-sama heterozigot. Meskipun tersisisa suspect tinggal AB+, tapi kita
belum bisa mengatakan dia adalah bapak biologis si bayi. Inilah salah satu
kekurangan dari metode blood typing.
Kemudian seiring berkembangnya zaman, ditemukanlah metode pemeriksaan DNA.
Lanjut ke DNA fingerprint, metode ini dikembangkan
oleh Dr. Alec Jeffrey pada tahun 1985. Beliau menemukan bahwa dalam setiap strand DNA terdapat ribuan pengulangan
DNA yang unik dan identik. Namun panjang, konstitusi dan jumlah pengulangan ini
berbeda pada tiap orang. Pada individu yang sama, meskipun sampel diambil dari
sumber yang berbeda, misal rambut, darah, kulit, dll akan selalu sama juga
pengulangannya.
v
Gen
Gen merupakan sekumpulan basa yang terletak pada
lokasi spesifik (lokus) pada kromosom, yang terdiri dari exon dan intron. Gen
berfungsi untuk mengkode asam amino. Biasanya terdapat lebih dari satu gen pada
tiap lokus, inilah yang disebut alel.
Pada DNA fingerprinting,
yang dideteksi adalah intronnya, kenapa? Karena intron tidak mengkode asam amino. Pada beberapa individu, ada yang
jumlah pengulangannya 12 kali, ada yang 10 kali. Jadi yang 10 kali ini
mengalami semacam “delesi” tapi tidak menimbulkan perubahan fenotip, ya karena
itu tadi, si intron tidak mengkode asam amino.
v
Short
tandem repeat (STR)
Short tandem repeat merupakan multiple copy dari urutan basa/region DNA yang identic dan tersusun
secara tandem dengan pengulangan sebanyak 2-8 kali. STR ditemukan di sekitar
sentromer kromosom.
Pada forensic, analisis STR merupakan metode yang
berguna untuk mengevaluasi region spesifik STR pada DNA kromosom. Kelebihan
metode ini adalah STR memiliki variasi panjang STR dalam suatu populasi,
sehingga ahli forensik dapat membedakan antara satu DNA dengan yang lainnya.
Contohnya adalah kecenderungan bahwa pada 2 individu (kecuali kembar identic)
memiliki profil DNA yang sama pada lokus 13 sebesar 1 berbanding 1 milyar atau
kurang pada suatu populasi.

Koleksi
sampel (1) DNA syaratnya haruslah utuh, kalau sel sudah membusuk
maka akan menjadi jelek hasilnya karena sel akan membengkak lalu pecah sehingga
materialnya tidak akan utuh lagi. Setelah proses pengambilan sampel, yang
dilakukan adalah ekstraksi DNA (2),
yaitu dengan cara membuka dinding sel dan dinding inti sel untuk mengambil
material DNA. Habis itu ngapain? Langkah berikutnya adalah amplifikasi (3), yaitu mengcopy fragmen DNA dari sampel, alias si
intron tadi. Kemudian dilakukan elektroforesis
(4), lalu genotyping (5) untuk
melihat berapa kali pengulangan tadi. Hasil dari genotyping akan dipaparkan
dalam bentuk berapa jumlah pengulangan, misal di lokus A, pengulangannya ada
yang 4 kali, ada yang 5 kali. Kenapa kok ada 2 hasilnya? Karena kita merupakan
hasil jerih payah orang tua kita yang berusaha mempertemukan sel sperma dengan
sel ovum yang keduanya bersifat haploid, sehingga dihasilkan sepasang
pengulangan pada lokusnya. Berdasarkan kesepakatan konsensus, penulisannya
duluan yang angkanya kecil, jadi misal Lokus A: (4, 5). Angka ini tidak
menunjukkan apakah jumlah pengulangan itu berasal dari ayah atau dari ibu,
kecuali kalo udah dicocokkan dengan sampel dari orangtua biologisnya.
v
Pengambilan
sampel
Apa saja sampel yang bisa kita ambil untuk DNA fingerprinting? Ada macam-macam, bisa
dari darah, gigi, sperma, rambut, urin, tulang, otot. Namun ada beberapa
catatan penting, pada darah jangan sampai terkecoh, karena pada eritrosit tidak
terdapat inti sel, yang punya inti sel tuh si retikulosit. Pengambilan sampel
sel dari darah biasanya pake leukosit karena memiliki inti.
Selain darah, bisa diambil juga dari sperma. Sperma
bisa diambil dari swab. Sperma keluar
bersamaan dengan cairan semen. Namun semen saja tanpa sperma tidak dapat
menjadi sampel pemeriksaan. Kalo ada cairan semen ini maka bisa menjadi
indikasi adanya persetubuhan. Pada sperma, karena sifatnya haploid maka
pengulangan pada lokusnya hanya satu kali, sehingga bila dideteksi, hanya dapat
mengidentifikasi siapa bapaknya.
Rambut juga dapat menjadi sampel pemeriksaan DNA
fingerprint, namun pengambilan DNA dari rambut cuma bisa dari sel folikel
rambutnya.
Kenapa urin juga dapat menjadi sampel? Padahal urin
bersifat steril. Yak, karena hampir pada tiap filtrasi darah di ginjal, selalu
ada leukosit yang terbawa, dan di urin juga terdapat debris berupa epitel dari
tranktus urinarius. Nah, sel epitel dan leukosit inilah yang kita jadikan
sampel pemeriksaan DNA.
v
Analisis
DNA

Contoh kasusnya, ada seorang anak ( C ) yang memiliki
pengulangan 5 dan 8 kali. Karena anak merupakan percampuran gen dari orangtuanya,
maka dapat dilihat bahwa dari si ibu (M) menyumbangkan pengulangan yang 8.
Terus siapa bapaknya? Cari deh yang pengulangannya sama dari ketiga tersangka.
Keliatan kan hasil analisanya kalo kemungkinan bapaknya si F1 yang nyumbang
pengulangan 5, maka dari hasil ini kita dapat mengeksklusi F2 dan F3. Oiya ini
pemeriksaannya pake elektroforesis ya
kalo grafiknya gini.

Kalo
yang ini pake automatic sequencer.
Mirip sih sebenernya sama elektroforesis. Cukup tau aja. Oiya kenapa yang ibu
cuma ada satu jenis pengulangannya? Itu artinya si ibu homozigot yah. Bapaknya
sama anak-anaknya pada heterozigot.
Ø Kasus mutilasi

Misal penyidik datang dengan membawa potongan-potongan
tubuh yang terdiri dari 2 lengan, 3 kaki, dan 1 badan. Pertanyaan apa yang
muncul pertama kali? Yak, berapa jumlah individunya? Dengan bantuan DNA fingerprinting, dapat diidentifikasi
bagian-bagian tubuh itu ada berapa individu, dan apakah berasal dari individu
yang sama.
Dari
gambar hasil elektroforesis keliatan kan ya kalo L1, L2, dan A2 merupakan
individu yang sama. Begitupun dengan L3, A1, dan B1 berasal dari individu yang
sama juga. Jadi ada 2 individu dalam kantong jenazah.
Nah terus apa yang harus dilakukan setelah itu? Tentu
saja dipublikasikan, apakah ada
kasus pembunuhan dengan mutilasi di daerah sekitarnya? Baru deh ntar bisa ketahuan
identitas korbannya.
v DNA kromosom vs DNA mitokondria
Apa aja sih bedanya mereka ini?
DNA mitokondria /
MtDNA berbentuk sirkuler dan
terdapat pada mitokondria. MtDNA hanya diwariskan
dari ibu saja. Kenapa? Karena pada sperma ayah, mitokondria semuanya berada
pada bagian ekor, sedangkan pada saat fertilisasi, ekor ini akan dilepaskan,
sehingga ayah tidak menyumbang material genetic untuk DNA mitokondria. Beda
dengan DNA kromosom yang diwariskan oleh kedua orangtuanya. Karena MtDNA hanya
dari ibu, maka semua anak-anaknya akan memiliki MtDNA yang sama dengan ibunya.
Namun MtDNA tidak dapat membedakan mana yang anak pertama kedua atau ketiga,
cuma bisa tau kalo mereka berasal dari ibu yang sama. Pewarisan mtDNA ini konsisten
antar generasi dari ibu, ke anak, cucu, bahkan sampe cicit dan canggahnya,
WOW .-.
Dari
segi jumlahnya pun mtDNA jauh lebih banyak
dari DNA kromosom, bisa sampai ribuan. Karena ketersediannya yang banyak ini
dan karena bentuknya yang sirkuler sehingga lebih tahan lama, maka mtDNA lebih applicable pada kasus-kasus pembunuhan yang sudah puluhan tahun.
Beda dengan DNA kromosom yang berbentuk memanjang jadi lebih mudah patah. Bila
patah/fragmented akan mempersulit amplifikasi DNA.
v
Langkah-langkah
analisis mtDNA
1.
Ekstraksi
DNA
Ambil
DNA dari sel lalu diisolasi. Akan didapatkan DNA kromosom dan DNA mitokondria.
Kemudian diseleksi mana yang akan digunakan menggunakan PCR.
2.
Amplifikasi
Setelah
masuk ke PCR akan dicopy/diamplifikasi, lalu masuk tahap selanjutnya.
3.
Sequencing
Sequencing adalah membaca urutan DNA. Gunanya adalah untuk melihat kesamaan pola
dengan keluarga korbannya. Semua pola urutannya harus sama persis buat nentuin
satu keturunan nggak. Contohnya bisa dilihat di bawah ini. Penting dilakukan
pemeriksaan ini karena terkadang ada lebih dari 1 keluarga yang datang ngaku2
kalo kerabat dari si korban, oleh karena itu perlu dibuktikan dulu dong.

Ø Kapan periksa DNA kromosom? Kapan DNA
mitokondria?
Tergantung kasusnya. Untuk melacak garis maternal menggunakan mtDNA. Untuk
garis paternal dan maternal memakai DNA kromosom. Bisa juga hanya melacak garis paternal saja dengan pemeriksaan short
tandem repeat (STR) pada kromosom seks
Y.
v Probabilitas forensic
Ada kemungkinan pada individu yang berbeda terdapat
pola pengulangan DNA yang sama. Oleh karena itu kita bisa memprediksi secara
statistik untuk melihat berapa probabilitas kasus seorang anak merupakan anak
dari bapaknya atau bukan. Ada 2 cara, yaitu:
a)
Proporsi
Hardy-Weinberg
Asumsi dari
perhitungan ini adalah semua populasi melakukan perkawinan secara random.
Frekuensi
homozigot dilambangkan sebagai p2. Sedangkan heterozigot sebagai
2pq.
Misal
terdapat suatu kasus, sampel akan dicocokkan dengan database DNA di suatu
populasi untuk melihat kemungkinannya. Contohnya seperti dibawah ini:

Berapa
perkiraan frekuensi homozigot pada alel 16 di lokus A?
Di
database terdapat frekuensi 1% pada alel 16 pada lokus A. Karena homozigot
adalah p2 maka peluangnya adalah (1/100)2 = 1/10.000
orang
Gimana
kalo heterozigot alel 8 dan 9 di lokus B?
Sama
aja perhitungannya, tinggal masukin frekuensi dari database aja. Heterozigot
rumusnya 2pq. Jadi 2 x (20%) x (25%) = 1/10 orang.
Kalo
dilihat dari hasilnya, sepertinya kurang valid ya bila dibandingkan dengan
jumlah penduduk suatu populasi, misal Jogja yang berpopulasi sekitar 3 juta
penduduk.
Nah biar makin valid, penting dilakukan pemeriksaan
sampel dari 2 lokus. Ambil aja dari contoh kasus di atas. Didapatkan sampel DNA
pelaku pembunuhan dengan lokus A (16, 16) dan lokus B (8, 9), berapa nih
proporsinya?
Gampang aja, tinggal dikalikan hasil perhitungan dari
tiap lokus. Jadinya lokus A x lokus B = 1/10.000 x 1/10 = 1/100.000 orang.
b)
Linkage
equilibrium
Sejujurnya
ini ga terlalu dijelasin di lecture, dan aku sendiri juga gapaham, jadi aku
coba cari sumber lain T.T Jadi, linkage adalah suatu kondisi dimana dua gen
terletak pada kromosom yang sama. Lalu apa itu linkage equilibrium? Linkage equilibrium
adalah kondisi dimana genotip pada dua lokus tidak tergantung satu sama lain.
Hal ini juga berarti kedua gen tersebut diwariskan secara komplit pada tiap
generasi. Fungsi linkage equilibrium adalah untuk memetakan pewarisan sifat
antar generasi. Bila kita mengetahui fase linkage pada orang tua, kita dapat
mengetahui gemet mana yang merupakan rekombinan dan mana yang bukan. Intinya,
dalam suatu populasi, dikatakan equilibrium bila:
Freq(AB) =
freq(Ab) = freq(aB) = freq(ab)
v Combined DNA Index System (CODIS)
Merupakan database elektronik profil DNA nasional yang
berguna untuk mengetahui pelaku tindak kejahatan. Biasanya dikumpulkan dari
para narapidana. Sementara ini Indonesia belum memiliki CODIS karena
membutuhkan biaya yang banyak.
Sumber:
Slide, rekaman, DiMaio
HSC Forensik PD Reg 2012 FK UGM
By Aditya Rifqi Fauzi
HSC Forensik PD Reg 2012 FK UGM
By Aditya Rifqi Fauzi
No comments :
Post a Comment