Seperti yang telah dijelaskan pada kuliah lainnya, Indonesia memiliki
kekayaan alam yang sangat melimpah, terutama dari segi biodiversitasnya yang
terbesar di dunia. Saat ini telah ditemukan lebih dari 3500 senyawa baru dari
tanaman yang berpotensi dikembangkan menjadi obat-obatan. Salah satu contoh
obat yang berhasil dikembangkan saat ini adalah vincristine yang berguna
sebagai obat leukiemia pada anak-anak dan vinblastine yang berguna sebagai obat
Hodgkin’s disease, kedua obat ini berasal dari vinca alkaloid.
v
Tahap pengembangan obat
Ada 4 tahapan yang harus dilewati suatu bahan herbal
agar bisa menjadi obat-obatan, yaitu:
1.
Discovery
Pada fase ini, difokuskan
pada sintesis senyawa kimia dan skrining
target obat. Kira2 bisa mengabiskan biaya 5 juta dolar.
2.
Seleksi
produk (5 juta dolar)
3.
Studi
preklinik (1-1,5 juta dolar)
4.
Studi
klinik (45-80 juta dolar)
a.
Fase I à uji keamanan dan tolerabilitas pada sukarelawan sehat
b.
Fase II à uji efikasi dan hubungan dosis-efek dengan jumlah
sukarelawan sedikit.
c.
Fase III à studi efikasi dengan jumlah pasien besar.
Oke jadi itu sekilas tentang tahapannya ya, sekarang kita bahas tentang
uji prekliniknya
v
Uji preklinik
Secara umum, uji preklinik terbagi jadi 3 tahapan
yaitu
a.
Uji farmasetika
Menguji
stabilitas zat aktif ekstrak sebelum dan sesudah pengeringan, menguji
stabilitas fisik sediaan kapsul dan tablet, serta sifat tambahan baik fisika
kimia maupun biologis.
b.
Uji farmakologi
Uji ini dibagi 2 yaitu farmakologi awal dan lanjut.
Untuk Farmakologi awal, mengamati
efikasinya, apakah ada adverse event atau tidak. Contoh model ujinya
adalah:
i.
Model in vivo:
analgesic, antipiretik, sedative, dll.
ii.
Model in
vitro: antispasmodic, bronkodilator, antiaritmia, anti sekresi asam lambung,
dll.
Kalo yang farmakologi
lanjut, melihat mekanisme kerjanya
secara detail mulai dari tingkat organ, tingkat jaringan, sel, bahkan hingga
molekulernya, missal ikatan reseptor atau aktivitas enzimnya.
c.
Uji toksikologi
Secara umum uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah
obat ini aman atau tidak. Dibagi menjadi 2 yaitu:
i.
Uji toksisitas akut
Tujuan: menetapkan
potensi toksisitas akut (LD50), menilai berbagai gejala klinis, spektrum efek
toksik, dan mekanisme kematian.
Pengamatan: minimal
1 spesies, dosis tunggal, besar dosis bertingkat, waktu pengamatan: 7-14 hari,
24 jam pertama diamati terus menerus, bila tidak dapat menentukan LD50, maka
diberikan dosis lebih tinggi, dan sampai dosis maksimal yang masih mungkin
diberikan pada hewan coba.
Cara: tikus dibagi
menjadi beberapa kelompok dosis dan satu kelompok kontrol, dipuasakan terlebih
dulu selama 12-14 jam, diamati dalam 24 jam pertama (untuk menentukan LD50)
lalu dilanjutkan sampai 14 hari.
Yang diamati adalah
kematian, gejala klinis, berat badan, persentase kematian, patologi organ
(makroskopis, mikroskopis).
ii.
Uji toksisitas jangka panjang
Tujuan: mengetahui spektrum efek toksik,
hubungan dosis dan toksisitas pada pemberian berulang dengan jangka waktu lama.
|
Masa Penggunaan Klinis
|
Masa Pemberian Obat Uji
|
|
Dosis tunggal atau <2
minggu
|
2 minggu - 1 bulan
|
|
Dosis berulang (1-4 minggu)
|
4 minggu – 3 bulan
|
|
Dosis berulang (1-6 minggu)
|
3 – 9 bulan
|
|
Dosis berulang (>6
bulan)
|
9 – 12 bulan
|
Caranya
adalah dengan menggunakan 3 peringkat dosis, yaitu dari yang tertinggi/toksik, aman,
terendah.
Yang
diamati adalah gejala klinis, berat badan, asupan makanan, minuman, volume
urin, berat tinja, darah rutin, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, albumin,
globulin, protein total.
Pada
hari ke 91 diamati mikroskopis dan patologi anatominya, dosis, cara pemberian,
frekuensi, interval, lama pemakaian.
Perlu pertimbangan: penggunaan empiric di masyarakat,
rencana maksud pemanfaatannya kelak, hasil uji toksisitas akut, hasil uji
farmakologi
iii.
Uji toksisitas khusus
Secara umum ada 3 yaitu:
-Uji teratogenik, yaitu
dilihat ada tidaknya janin cacat, resorpsi atau janin yang mati. Contohnya pada
gambar berikut, beberapa janin tikus mengalami kecacatan.

-Uji karsinogenik
-Uji mutagenik
Berikut
ini adalah beberapa uji preklinik
1.
Uji tekanan darah dengan
metode tail cuff
Mengukur tekanan darah pada tikus dengan
memberikan cuff pada ekornya pada
tekanan 300mmHg. Lalu diturunkan perlahan dan nadi pertama adalah tekanan
sistolik. Bisa digunakan pada mencit, kera, atau anjing.
2.
Uji antiinflamasi
Menguji adanya efek antiinflamasi, digunakan
dengan berbagai parameter. Inflamasi diinduksi oleh karagenin 1% 0,1mL (untuk
yg akut) dan Complete Freud’s Adjuvant (CFA) 0,1mL (kronis)
a. Pengukuran volume edema
Digunakan alat pletysmograph
b. Indeks artritis
Bandingkan kedua kaki lalu beri skor.
c. Ekspresi enzim COX-1 dan COX-2
Diamati pada sel-sel inflamatorik pada jaringan yang meradang. Positif
jika berwarna coklat dan negative bila biru.
3.
Antispasmodik/spasmolitik
Cek praktikum tentang spasmolitik, yang isinya
asetilkolin (agonis) dan sulfas atropine (antagonis)
4.
Uji efek afrodisiak
Uji ini dilakukan pada tikus
jantan saat fase gelap (12.30-17.00). Obat diberikan 1 jam sebelum uji. Tikus
jantan tersebut ditempatkan pada kotak uji dari kaca berukuran 50x60 cm atau
25x40 cm. Lalu tikus betina yang siap kawin dimasukkan ke dalam kotak uji dan
diamati perilaku seksualnya. Lihat parameternya di slide ya.
5. Uji analgesic
Uji ini menggunakan prosedur hot plate. Tikus dimasukkan dalam wadah yg
berisik plat panas. Nanti dilihat latensi melompatnya dari si tikus karena
kepanasan. Gambarnya kaya gini.

No comments :
Post a Comment