Permasalahan
kesehatan masih menjadi kendala di Papua Nugini. Studi kasus ini menyebutkan
bahwa berdasarkan WHO, 50% kematian disebabkan oleh non-communicable disease. Warga di pelosok mengalami kesulitan dalam
mengakses pelayanan kesehatan primer, terlebih lagi masih ada masalah berupa
fasilitas minim dan rendahnya kualitas pelayanan. Kesadaran pemerintah akan hal
ini membuat pemerintah mendorong LSM-LSM untuk turut serta turun tangan.
Kelebihan kerjasama pemerintah dengan LSM antara lain, dapat mencapai area yang
lebih dalam dari pemerintah, dan lebih berpengalaman dalam menyediakan
pelayanan kesehatan secara efektif bertahun-tahun. Dengan dibentuknya kerjasama
ini, LSM juga dapat berperan sebagai penyedia layanan kesehatan di komunitas.Menurut
saya bentuk kerjasama ini sangatlah bagus karena membantu warga Papua Nugini
mendapat pelayanan kesehatan di tengah terbatasnya kemampuan pemerintah dalam
mengkover rakyatnya. Namun di satu sisi saya juga masih skeptis dengan hal ini,
karena di tanah air Indonesia sendiri saya masih jarang mendengar atau
menemukan LSM yang memang memiliki concern
dalam mengembangkan dan memperbaiki kesehatan di tanah papua. Lalu bagaimana
sebaiknya? Apakah cukup mengandalkan LSM saja atau masih ada komponen yang
kurang untuk mewujudkan Sustainable Development Goals yang sudah
digembor-gemborkan di dunia atas gagalnya MDGs di tahun 2015? Apakah kita
sebagai mahasiswa hanya akan menjadi penonton atau menjadi pelakunya?Sumber: http://www.adb.org/results/improving-health-care-services-papua-new-guineaOleh: Aditya Rifqi
Fauzi
Share On
About
Unknown
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas euismod diam at commodo sagittis. Nam id molestie velit. Nunc id nisl tristique, dapibus tellus quis, dictum metus. Pellentesque id imperdiet est.
No comments :
Post a Comment