Artikel ini cukup menggelitik saya karena cukup menggambarkan secara
sekilas kondisi dan seluk beluk permasalahan di tanah Papua yang terkenal itu.
Papua memang memiliki
topografi yang bervariasi mulai dari dataran tinggi, dataran rendah, rawa-rawa,
lembah, danau dan laut yang bersih membuatnya menjadi salah satu tempat yang
indah untuk dikunjungi. Namun dibalik keindahan alamnya, tenyata tanah Papua
sangatlah memprihatinkan, bukan hanya dari segi ekonomi namun dari segi
kesehatannya pula. Tidak tersedianya layanan kesehatan ini terjadi di provinsi
yang memiliki tingkat harapan hidup terendah di Indonesia.
Tingkat harapan hidup penduduk asli Papua menunjukkan angka yang signifikan jauh lebih rendah dibandingkan
dengan populasi migran atau pendatang yang mendekati angka
nasional. Para penduduk migran atau pendatang umumnya
terkonsentrasi di wilayah perkotaan, di mana sistem layanan kesehatan masih berfungsi. Sebaliknya penduduk asli Papua umumnya berada
di wilayah perkampungan yang terpencil di mana sistem layanan
kesehatan tidak berjalan. Bukan hanya faktor jarak yang mempersulit mengakses,
namun budaya juga yang menghalangi, karena 60 persen warga papua masih meyakini
dan menggunakan pengobatan dari dukun dengan pengobatan herbal.
Pemerintah Papua telah
berusaha meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatannya dengan mengadakan mobile clinic yang konsepnya adalah
jemput bola, sehingga petugas kesehatan lah yang berkeliling mencari pasiennya.
Selain
itu dibentuk pula satuan tugas atau satgas yang dibagi menjadi tiga yaitu,
satgas kaki telanjang, terapung dan pelayanan udara. Dari nama satgasnya
sendiri dapat kita tebak bahwa satgas kaki telanjang akan berpatroli
menggunakan jalur darat dengan berjalan kaki, satgas terapung berada di jalur
perairan dengan menggunakan kapan dan satgas pelayanan udara menggunakan
pesawat atau helicopter yang dapat menjangkau daerah yang lebih terpelosok.
Program ini telah dimulai sejak tahu 2015 dan terbukti sangat membantu
masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan di tanah Papua.
"Pelayanan
ini sangat membantu masyarakat. Sebab biasanya saat puskesmas buka, yang datang
bisa dihitung pakai jari karena harus bertani, melaut, atau berkebun. Saat
puskesmas tutup, mereka baru pulang," ujar Aloysius Giyai selaku kepala
dinas kesehatan Papua
By: Aditya Rifqi Fauzi
No comments :
Post a Comment