Your future doctor

Stay calm. Stay healthy. And welcome to my life
Follow Me
Artikel ini cukup menggelitik saya karena cukup menggambarkan secara sekilas kondisi dan seluk beluk permasalahan di tanah Papua yang terkenal itu.
Papua memang memiliki topografi yang bervariasi mulai dari dataran tinggi, dataran rendah, rawa-rawa, lembah, danau dan laut yang bersih membuatnya menjadi salah satu tempat yang indah untuk dikunjungi. Namun dibalik keindahan alamnya, tenyata tanah Papua sangatlah memprihatinkan, bukan hanya dari segi ekonomi namun dari segi kesehatannya pula. Tidak tersedianya layanan kesehatan ini terjadi di provinsi yang memiliki tingkat harapan hidup terendah di Indonesia. Tingkat harapan hidup penduduk asli Papua menunjukkan angka yang signifikan jauh lebih rendah dibandingkan dengan populasi migran atau pendatang yang mendekati angka nasional. Para penduduk migran atau pendatang umumnya terkonsentrasi di wilayah perkotaan, di mana sistem layanan kesehatan masih berfungsi. Sebaliknya penduduk asli Papua umumnya berada di wilayah perkampungan yang terpencil di mana sistem layanan kesehatan tidak berjalan. Bukan hanya faktor jarak yang mempersulit mengakses, namun budaya juga yang menghalangi, karena 60 persen warga papua masih meyakini dan menggunakan pengobatan dari dukun dengan pengobatan herbal.
Pemerintah Papua telah berusaha meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatannya dengan mengadakan mobile clinic yang konsepnya adalah jemput bola, sehingga petugas kesehatan lah yang berkeliling mencari pasiennya. Selain itu dibentuk pula satuan tugas atau satgas yang dibagi menjadi tiga yaitu, satgas kaki telanjang, terapung dan pelayanan udara. Dari nama satgasnya sendiri dapat kita tebak bahwa satgas kaki telanjang akan berpatroli menggunakan jalur darat dengan berjalan kaki, satgas terapung berada di jalur perairan dengan menggunakan kapan dan satgas pelayanan udara menggunakan pesawat atau helicopter yang dapat menjangkau daerah yang lebih terpelosok. Program ini telah dimulai sejak tahu 2015 dan terbukti sangat membantu masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan di tanah Papua.

"Pelayanan ini sangat membantu masyarakat. Sebab biasanya saat puskesmas buka, yang datang bisa dihitung pakai jari karena harus bertani, melaut, atau berkebun. Saat puskesmas tutup, mereka baru pulang," ujar Aloysius Giyai selaku kepala dinas kesehatan Papua

By: Aditya Rifqi Fauzi 

Papua Nugini merupakan salah satu negara pasifik dengan tingkat kesehatan yang rendah. Pemerintah Papua Nugini khususnya depatermen kesehatan telah berusaha meningkatkan taraf kesehatan rakyatnya dengan membuat perencanaan  kesehatan pada tahun 2012. Rencana kerja nasional bidang kesehatan Papua Nugini berfokus pada penguatan pelayanan primer dengan objektif MDGs. Permasalahan di negara ini ternyata juga sama dengan di Indonesia, yaitu masalah sumber daya dan terbatasnya dana untuk kesehatan. Bahkan dana kesehatan merupakan campuran dari 3 sumber yaitu dana pemerintah, out-of-pocket, dan pendanaan luar. Dari segi sumberdaya pendidikan tenaga kesehatan pun sangat terbatas, hanya memiliki 6 sekolah keperawatan dari 9 yang ada di negara ini. Rasio dokter dengan jumlah penduduknya pun sangat memprihatinkan yaitu kurang dari 1 per 10.000 penduduk.

            Papua Nugini memiliki kelebihan yaitu memiliki keragaman biodiversitas yang kaya. Pada tahun 1999 tercatat 80% populasi menggunakan pengobatan herbal dan obat tradisional. Pemerintah Papua Nugini tak tinggal diam dan langsung mengambil peluang ini untuk menutupi kekurangan di sektor kesehatan dengan menjadikan pengobatan tradisional terintegrasi dalam fasilitas kesehatan primer dan melakukan pelatihan pada dokter-dokter agar mampu memberi pengobatan herbal. Hal ini bisa menjadi refleksi bagi Indonesia yang juga memiliki keragaman biodiversitas yang luar biasa. Bukannya memaksakan doktrin dunia kedokteran modern dari barat, justru menjalankannya secara berdampingan akan mampu membawa dampak positif bagi masyarakat melalui pendekatan dari kearifan lokal dan budaya masyarakat setempat mengenai pengobatan tradisional.
Seperti yang telah dijelaskan pada kuliah lainnya, Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, terutama dari segi biodiversitasnya yang terbesar di dunia. Saat ini telah ditemukan lebih dari 3500 senyawa baru dari tanaman yang berpotensi dikembangkan menjadi obat-obatan. Salah satu contoh obat yang berhasil dikembangkan saat ini adalah vincristine yang berguna sebagai obat leukiemia pada anak-anak dan vinblastine yang berguna sebagai obat Hodgkin’s disease, kedua obat ini berasal dari vinca alkaloid.

v  Tahap pengembangan obat
Ada 4 tahapan yang harus dilewati suatu bahan herbal agar bisa menjadi obat-obatan, yaitu:
1.      Discovery
Pada fase ini, difokuskan pada sintesis senyawa kimia dan skrining target obat. Kira2 bisa mengabiskan biaya 5 juta dolar.
2.      Seleksi produk (5 juta dolar)
3.      Studi preklinik (1-1,5 juta dolar)
4.      Studi klinik (45-80 juta dolar)
a.      Fase I à uji keamanan dan tolerabilitas pada sukarelawan sehat
b.      Fase II à uji efikasi dan hubungan dosis-efek dengan jumlah sukarelawan sedikit.
c.       Fase III à studi efikasi dengan jumlah pasien besar.

Oke jadi itu sekilas tentang tahapannya ya, sekarang kita bahas tentang uji prekliniknya

v  Uji preklinik
Secara umum, uji preklinik terbagi jadi 3 tahapan yaitu
a.      Uji farmasetika
Menguji stabilitas zat aktif ekstrak sebelum dan sesudah pengeringan, menguji stabilitas fisik sediaan kapsul dan tablet, serta sifat tambahan baik fisika kimia maupun biologis.

b.      Uji farmakologi
Uji ini dibagi 2 yaitu farmakologi awal dan lanjut. Untuk Farmakologi awal, mengamati efikasinya, apakah ada adverse event atau tidak. Contoh model ujinya adalah:
                                 i.      Model in vivo: analgesic, antipiretik, sedative, dll.
                               ii.      Model in vitro: antispasmodic, bronkodilator, antiaritmia, anti sekresi asam lambung, dll.
Kalo yang farmakologi lanjut, melihat mekanisme kerjanya secara detail mulai dari tingkat organ, tingkat jaringan, sel, bahkan hingga molekulernya, missal ikatan reseptor atau aktivitas enzimnya.

c.       Uji toksikologi
Secara umum uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah obat ini aman atau tidak. Dibagi menjadi 2 yaitu:
                                i.            Uji toksisitas akut
Tujuan: menetapkan potensi toksisitas akut (LD50), menilai berbagai gejala klinis, spektrum efek toksik, dan mekanisme kematian.
Pengamatan: minimal 1 spesies, dosis tunggal, besar dosis bertingkat, waktu pengamatan: 7-14 hari, 24 jam pertama diamati terus menerus, bila tidak dapat menentukan LD50, maka diberikan dosis lebih tinggi, dan sampai dosis maksimal yang masih mungkin diberikan pada hewan coba.
Cara: tikus dibagi menjadi beberapa kelompok dosis dan satu kelompok kontrol, dipuasakan terlebih dulu selama 12-14 jam, diamati dalam 24 jam pertama (untuk menentukan LD50) lalu dilanjutkan sampai 14 hari.
Yang diamati adalah kematian, gejala klinis, berat badan, persentase kematian, patologi organ (makroskopis, mikroskopis).

               ii.            Uji toksisitas jangka panjang
Tujuan: mengetahui spektrum efek toksik, hubungan dosis dan toksisitas pada pemberian berulang dengan jangka waktu lama.

Masa Penggunaan Klinis
Masa Pemberian Obat Uji
Dosis tunggal atau <2 minggu
2 minggu - 1 bulan
Dosis berulang (1-4 minggu)
4 minggu – 3 bulan
Dosis berulang (1-6 minggu)
3 – 9 bulan
Dosis berulang (>6 bulan)
9 – 12 bulan

Caranya adalah dengan menggunakan 3 peringkat dosis, yaitu dari yang tertinggi/toksik, aman, terendah.
Yang diamati adalah gejala klinis, berat badan, asupan makanan, minuman, volume urin, berat tinja, darah rutin, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, albumin, globulin, protein total.
Pada hari ke 91 diamati mikroskopis dan patologi anatominya, dosis, cara pemberian, frekuensi, interval, lama pemakaian.
Perlu pertimbangan: penggunaan empiric di masyarakat, rencana maksud pemanfaatannya kelak, hasil uji toksisitas akut, hasil uji farmakologi

iii.            Uji toksisitas khusus
Secara umum ada 3 yaitu:
-Uji teratogenik, yaitu dilihat ada tidaknya janin cacat, resorpsi atau janin yang mati. Contohnya pada gambar berikut, beberapa janin tikus mengalami kecacatan.











-Uji karsinogenik
-Uji mutagenik
Berikut ini adalah beberapa uji preklinik
1.      Uji tekanan darah dengan metode tail cuff
Mengukur tekanan darah pada tikus dengan memberikan cuff pada ekornya pada tekanan 300mmHg. Lalu diturunkan perlahan dan nadi pertama adalah tekanan sistolik. Bisa digunakan pada mencit, kera, atau anjing.
2.      Uji antiinflamasi
Menguji adanya efek antiinflamasi, digunakan dengan berbagai parameter. Inflamasi diinduksi oleh karagenin 1% 0,1mL (untuk yg akut) dan Complete Freud’s Adjuvant (CFA) 0,1mL (kronis)
a.      Pengukuran volume edema
Digunakan alat pletysmograph
b.      Indeks artritis
Bandingkan kedua kaki lalu beri skor.
c.       Ekspresi enzim COX-1 dan COX-2
Diamati pada sel-sel inflamatorik pada jaringan yang meradang. Positif jika berwarna coklat dan negative bila biru.
3.      Antispasmodik/spasmolitik
Cek praktikum tentang spasmolitik, yang isinya asetilkolin (agonis) dan sulfas atropine (antagonis)
4.      Uji efek afrodisiak
Uji ini dilakukan pada tikus jantan saat fase gelap (12.30-17.00). Obat diberikan 1 jam sebelum uji. Tikus jantan tersebut ditempatkan pada kotak uji dari kaca berukuran 50x60 cm atau 25x40 cm. Lalu tikus betina yang siap kawin dimasukkan ke dalam kotak uji dan diamati perilaku seksualnya. Lihat parameternya di slide ya.
5.      Uji analgesic
Uji ini menggunakan prosedur hot plate. Tikus dimasukkan dalam wadah yg berisik plat panas. Nanti dilihat latensi melompatnya dari si tikus karena kepanasan. Gambarnya kaya gini.





Semua kematian memerlukan identifikasi yang jelas untuk membuat surat kematian. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi adalah dengan identifikasi wajah, karakteristik tubuh, baju, aksesoris, antropologi forensic, golongan darah, odontology forensic, sidik jari dan DNA.
Inti dari identifikasi personal adalah membandingkan antara data post mortem dan antemortem yang didapat dari keluarga, rumah sakit, dll. Pada jenazah yang sudah hancur dan hanya tersisa tulang belulang, proses identifikasi menjadi lebih sulit, oleh karena itu kita dapat memanfaatkan salah satu metode yang akan kita pelajari, yaitu DNA fingerprinting.
Sedikit mengulang materi SMA  tentang hukum Mendel, apabila individu homozigot dominan (AA) dikawinkan dengan homozigot resesif (aa) maka akan dihasilkan keturunan generasi pertama yang seluruhnya heterozigot (Aa). Apabila keturunan pertama yang heterozigot ini dikawinkan dengan sesama heterozigot maka akan dihasilkan keturunan yang bermacam-macam yaitu 25% AA, 50% Aa, dan 25% aa.
Pemeriksaan sampel untuk forensic salah satunya seperti yang sudah kita ketahui yaitu dengan menggunakan DNA.  Di dalam sel terdapat 2 macam DNA, yaitu yang terdapat di inti sel (DNA kromosom) dan yang terdapat di sitoplasma (DNA mitokondria).
Kromosom merupakan untaian rantai DNA yang sangat panjang yang terdiri dari nukleotida. Ada 4 macam nukleotida yaitu adenine, timin, guanine, dan sitosin. Keempat macam nukleotida ini saling berkomplementer, jadi adenine berpasangan dengan timin, dan guanine berpasangan dengan sitosin. Sifat pasangan nukleotida ini saling ber komplementer, jadi kalau ikatan ini terlepas dan hanya tersisa satu pita, maka kita pasti bakalan tau siapa pasangannya yang hilang itu.
            Pada jaman dahulu, saat belum ditemukan DNA, untuk mencari kecocokan hubungan kekerabatan digunakan golongan darah. Golongan darah dibagi dengan sistem ABO dan Rhesus. Seperti yang ada di lekcer, kasusnya adalah seorang bayi golongan darah B+ punya ibu golongan darah A+. Ada 3 tersangka masing2 bergolongan darag AB+, O+, DAN A+. Lalu siapakah bapaknya? Kita jelas bisa mengeksklusi yang bergolongan darah O+ dan A+, karena ga mungkin kan punya anak B+ dengan ibu yang A+, meskipun andaikata mereka semua sama-sama heterozigot. Meskipun tersisisa suspect tinggal AB+, tapi kita belum bisa mengatakan dia adalah bapak biologis si bayi. Inilah salah satu kekurangan dari metode blood typing. Kemudian seiring berkembangnya zaman, ditemukanlah metode pemeriksaan DNA.
Lanjut ke DNA fingerprint, metode ini dikembangkan oleh Dr. Alec Jeffrey pada tahun 1985. Beliau menemukan bahwa dalam setiap strand DNA terdapat ribuan pengulangan DNA yang unik dan identik. Namun panjang, konstitusi dan jumlah pengulangan ini berbeda pada tiap orang. Pada individu yang sama, meskipun sampel diambil dari sumber yang berbeda, misal rambut, darah, kulit, dll akan selalu sama juga pengulangannya.
v  Gen
Gen merupakan sekumpulan basa yang terletak pada lokasi spesifik (lokus) pada kromosom, yang terdiri dari exon dan intron. Gen berfungsi untuk mengkode asam amino. Biasanya terdapat lebih dari satu gen pada tiap lokus, inilah yang  disebut alel.
Pada DNA fingerprinting, yang dideteksi adalah intronnya, kenapa? Karena intron tidak mengkode asam amino. Pada beberapa individu, ada yang jumlah pengulangannya 12 kali, ada yang 10 kali. Jadi yang 10 kali ini mengalami semacam “delesi” tapi tidak menimbulkan perubahan fenotip, ya karena itu tadi, si intron tidak mengkode asam amino.
v  Short tandem repeat (STR)
Short tandem repeat merupakan multiple copy dari urutan basa/region DNA yang identic dan tersusun secara tandem dengan pengulangan sebanyak 2-8 kali. STR ditemukan di sekitar sentromer kromosom.
Pada forensic, analisis STR merupakan metode yang berguna untuk mengevaluasi region spesifik STR pada DNA kromosom. Kelebihan metode ini adalah STR memiliki variasi panjang STR dalam suatu populasi, sehingga ahli forensik dapat membedakan antara satu DNA dengan yang lainnya. Contohnya adalah kecenderungan bahwa pada 2 individu (kecuali kembar identic) memiliki profil DNA yang sama pada lokus 13 sebesar 1 berbanding 1 milyar atau kurang pada suatu populasi.
Koleksi sampel (1) DNA syaratnya haruslah utuh, kalau sel sudah membusuk maka akan menjadi jelek hasilnya karena sel akan membengkak lalu pecah sehingga materialnya tidak akan utuh lagi. Setelah proses pengambilan sampel, yang dilakukan adalah ekstraksi DNA (2), yaitu dengan cara membuka dinding sel dan dinding inti sel untuk mengambil material DNA. Habis itu ngapain? Langkah berikutnya adalah amplifikasi (3), yaitu mengcopy fragmen DNA dari sampel, alias si intron tadi. Kemudian dilakukan elektroforesis (4), lalu genotyping (5) untuk melihat berapa kali pengulangan tadi. Hasil dari genotyping akan dipaparkan dalam bentuk berapa jumlah pengulangan, misal di lokus A, pengulangannya ada yang 4 kali, ada yang 5 kali. Kenapa kok ada 2 hasilnya? Karena kita merupakan hasil jerih payah orang tua kita yang berusaha mempertemukan sel sperma dengan sel ovum yang keduanya bersifat haploid, sehingga dihasilkan sepasang pengulangan pada lokusnya. Berdasarkan kesepakatan konsensus, penulisannya duluan yang angkanya kecil, jadi misal Lokus A: (4, 5). Angka ini tidak menunjukkan apakah jumlah pengulangan itu berasal dari ayah atau dari ibu, kecuali kalo udah dicocokkan dengan sampel dari orangtua biologisnya.
v  Pengambilan sampel
Apa saja sampel yang bisa kita ambil untuk DNA fingerprinting? Ada macam-macam, bisa dari darah, gigi, sperma, rambut, urin, tulang, otot. Namun ada beberapa catatan penting, pada darah jangan sampai terkecoh, karena pada eritrosit tidak terdapat inti sel, yang punya inti sel tuh si retikulosit. Pengambilan sampel sel dari darah biasanya pake leukosit karena memiliki inti.
Selain darah, bisa diambil juga dari sperma. Sperma bisa diambil dari swab. Sperma keluar bersamaan dengan cairan semen. Namun semen saja tanpa sperma tidak dapat menjadi sampel pemeriksaan. Kalo ada cairan semen ini maka bisa menjadi indikasi adanya persetubuhan. Pada sperma, karena sifatnya haploid maka pengulangan pada lokusnya hanya satu kali, sehingga bila dideteksi, hanya dapat mengidentifikasi siapa bapaknya.
Rambut juga dapat menjadi sampel pemeriksaan DNA fingerprint, namun pengambilan DNA dari rambut cuma bisa dari sel folikel rambutnya.
Kenapa urin juga dapat menjadi sampel? Padahal urin bersifat steril. Yak, karena hampir pada tiap filtrasi darah di ginjal, selalu ada leukosit yang terbawa, dan di urin juga terdapat debris berupa epitel dari tranktus urinarius. Nah, sel epitel dan leukosit inilah yang kita jadikan sampel pemeriksaan DNA.
v  Analisis DNA
Contoh kasusnya, ada seorang anak ( C ) yang memiliki pengulangan 5 dan 8 kali. Karena anak merupakan percampuran gen dari orangtuanya, maka dapat dilihat bahwa dari si ibu (M) menyumbangkan pengulangan yang 8. Terus siapa bapaknya? Cari deh yang pengulangannya sama dari ketiga tersangka. Keliatan kan hasil analisanya kalo kemungkinan bapaknya si F1 yang nyumbang pengulangan 5, maka dari hasil ini kita dapat mengeksklusi F2 dan F3. Oiya ini pemeriksaannya pake elektroforesis ya kalo grafiknya gini.

Kalo yang ini pake automatic sequencer. Mirip sih sebenernya sama elektroforesis. Cukup tau aja. Oiya kenapa yang ibu cuma ada satu jenis pengulangannya? Itu artinya si ibu homozigot yah. Bapaknya sama anak-anaknya pada heterozigot.






Ø  Kasus mutilasi
Misal penyidik datang dengan membawa potongan-potongan tubuh yang terdiri dari 2 lengan, 3 kaki, dan 1 badan. Pertanyaan apa yang muncul pertama kali? Yak, berapa jumlah individunya? Dengan bantuan DNA fingerprinting, dapat diidentifikasi bagian-bagian tubuh itu ada berapa individu, dan apakah berasal dari individu yang sama.
Dari gambar hasil elektroforesis keliatan kan ya kalo L1, L2, dan A2 merupakan individu yang sama. Begitupun dengan L3, A1, dan B1 berasal dari individu yang sama juga. Jadi ada 2 individu dalam kantong jenazah.
Nah terus apa yang harus dilakukan setelah itu? Tentu saja dipublikasikan, apakah ada kasus pembunuhan dengan mutilasi di daerah sekitarnya? Baru deh ntar bisa ketahuan identitas korbannya.

v  DNA kromosom vs DNA mitokondria
Apa aja sih bedanya mereka ini?
DNA mitokondria / MtDNA berbentuk sirkuler dan terdapat pada mitokondria. MtDNA hanya diwariskan dari ibu saja. Kenapa? Karena pada sperma ayah, mitokondria semuanya berada pada bagian ekor, sedangkan pada saat fertilisasi, ekor ini akan dilepaskan, sehingga ayah tidak menyumbang material genetic untuk DNA mitokondria. Beda dengan DNA kromosom yang diwariskan oleh kedua orangtuanya. Karena MtDNA hanya dari ibu, maka semua anak-anaknya akan memiliki MtDNA yang sama dengan ibunya. Namun MtDNA tidak dapat membedakan mana yang anak pertama kedua atau ketiga, cuma bisa tau kalo mereka berasal dari ibu yang sama. Pewarisan mtDNA ini konsisten antar generasi dari ibu, ke anak, cucu, bahkan sampe cicit dan canggahnya, WOW .-.
Dari segi jumlahnya pun mtDNA jauh lebih banyak dari DNA kromosom, bisa sampai ribuan. Karena ketersediannya yang banyak ini dan karena bentuknya yang sirkuler sehingga lebih tahan lama, maka mtDNA lebih applicable pada kasus-kasus pembunuhan yang sudah puluhan tahun. Beda dengan DNA kromosom yang berbentuk memanjang jadi lebih mudah patah. Bila patah/fragmented akan mempersulit amplifikasi DNA.
v  Langkah-langkah analisis mtDNA

1.      Ekstraksi DNA
Ambil DNA dari sel lalu diisolasi. Akan didapatkan DNA kromosom dan DNA mitokondria. Kemudian diseleksi mana yang akan digunakan menggunakan PCR.

2.      Amplifikasi
Setelah masuk ke PCR akan dicopy/diamplifikasi, lalu masuk tahap selanjutnya.

3.      Sequencing
Sequencing adalah membaca urutan DNA.  Gunanya adalah untuk melihat kesamaan pola dengan keluarga korbannya. Semua pola urutannya harus sama persis buat nentuin satu keturunan nggak. Contohnya bisa dilihat di bawah ini. Penting dilakukan pemeriksaan ini karena terkadang ada lebih dari 1 keluarga yang datang ngaku2 kalo kerabat dari si korban, oleh karena itu perlu dibuktikan dulu dong.


Ø  Kapan periksa DNA kromosom? Kapan DNA mitokondria?
Tergantung kasusnya. Untuk melacak garis maternal menggunakan mtDNA. Untuk garis paternal dan maternal memakai DNA kromosom. Bisa juga hanya melacak garis paternal saja dengan pemeriksaan short tandem repeat (STR) pada kromosom seks  Y.
v  Probabilitas forensic
Ada kemungkinan pada individu yang berbeda terdapat pola pengulangan DNA yang sama. Oleh karena itu kita bisa memprediksi secara statistik untuk melihat berapa probabilitas kasus seorang anak merupakan anak dari bapaknya atau bukan. Ada 2 cara, yaitu:
a)      Proporsi Hardy-Weinberg
Asumsi dari perhitungan ini adalah semua populasi melakukan perkawinan secara random.
Frekuensi homozigot dilambangkan sebagai p2. Sedangkan heterozigot sebagai 2pq.
Misal terdapat suatu kasus, sampel akan dicocokkan dengan database DNA di suatu populasi untuk melihat kemungkinannya. Contohnya seperti dibawah ini:

Berapa perkiraan frekuensi homozigot pada alel 16 di lokus A?
Di database terdapat frekuensi 1% pada alel 16 pada lokus A. Karena homozigot adalah p2 maka peluangnya adalah (1/100)2 = 1/10.000 orang
Gimana kalo heterozigot alel 8 dan 9 di lokus B?
Sama aja perhitungannya, tinggal masukin frekuensi dari database aja. Heterozigot rumusnya 2pq. Jadi 2 x (20%) x (25%) = 1/10 orang.
Kalo dilihat dari hasilnya, sepertinya kurang valid ya bila dibandingkan dengan jumlah penduduk suatu populasi, misal Jogja yang berpopulasi sekitar 3 juta penduduk.
Nah biar makin valid, penting dilakukan pemeriksaan sampel dari 2 lokus. Ambil aja dari contoh kasus di atas. Didapatkan sampel DNA pelaku pembunuhan dengan lokus A (16, 16) dan lokus B (8, 9), berapa nih proporsinya?
Gampang aja, tinggal dikalikan hasil perhitungan dari tiap lokus. Jadinya lokus A x lokus B = 1/10.000 x 1/10 = 1/100.000 orang.

b)     Linkage equilibrium
Sejujurnya ini ga terlalu dijelasin di lecture, dan aku sendiri juga gapaham, jadi aku coba cari sumber lain T.T Jadi, linkage adalah suatu kondisi dimana dua gen terletak pada kromosom yang sama. Lalu apa itu linkage equilibrium? Linkage equilibrium adalah kondisi dimana genotip pada dua lokus tidak tergantung satu sama lain. Hal ini juga berarti kedua gen tersebut diwariskan secara komplit pada tiap generasi. Fungsi linkage equilibrium adalah untuk memetakan pewarisan sifat antar generasi. Bila kita mengetahui fase linkage pada orang tua, kita dapat mengetahui gemet mana yang merupakan rekombinan dan mana yang bukan. Intinya, dalam suatu populasi, dikatakan equilibrium bila:

Freq(AB) = freq(Ab) = freq(aB) = freq(ab)


v  Combined DNA Index System (CODIS)
Merupakan database elektronik profil DNA nasional yang berguna untuk mengetahui pelaku tindak kejahatan. Biasanya dikumpulkan dari para narapidana. Sementara ini Indonesia belum memiliki CODIS karena membutuhkan biaya yang banyak.

Sumber: Slide, rekaman, DiMaio

HSC Forensik PD Reg 2012 FK UGM
By Aditya Rifqi Fauzi
Kali ini aku mau cerita pengalamanku bertemu dengan orang-orang hebat di FK :)
Semua diawali dari kepanitian pertama yang aku ikuti yaitu kepanitiaan Idul Adha yang diselenggarakan oleh KaLAM, sebuah organisasi kerohanian islam yang ada di FK, sore itu di ruang kuliah lantai 2 kalo gak salah, kita rapat perdana nih ceritanya, yang ikhwan sedikit banget yang dateng, entah karena kurang minat ikutan ato emang karena cuaca diluar sedang hujan, nah disitu aku pertama kenalan sama Mas Rhama, seorang asdos biokim, yang ternyata juga satu alumni di SMP sama SMA, hmm, terus dia minta aku buat ngajakin temen2 lain buat ikutan kepanitiaan ini, aku sms yang aku kenal kaya edit, yayak, dll, tapi pada gamau ikutan, yaudah deh ya.
Oke dimulai lah rapatnya, ada sambutan dari ketua Idul adha taun lalu, yaitu Mas Fiko, terus lanjut ke pemilihan ketua kali ini, yang ketunjuk si Ngeni, aku ga hafal yang lain sih, yang jelas aku jadi koor akomtrans waktu itu, satu-satunya sie yang ga punya anak buah T.T. Walhasil ya transportnya aku sendirian yang ngurusin.
Nah lanjut, sebelum hari H kita survey dulu ke desanya, di desa Srimartani, desa binaannya KMFK, lumayan jauh banget sih, apalagi pas itu naik motor doang, disana kita liat-lita masjidnya yang bakal kita pake buat acara sama kunjungan juga ke rumah kadesnya, kalo malem sumpah jalannya gelap banget, mana pas itu ada tikungan gelap banget dan sebelahnya ada jurang lagi, hiiih serem dah.
Lanjut ke malam sebelum acara, nah disana kita keliling takbiran sama anak-anak TPA, seru lah pokoknya gelap-gelap gitu jalan cuma bawa obor sambil mengucap takbir, yang paling aku inget pas itu aku disuruh gendong satu anak kecil cewek, yang dia tuh capek jalan, akhirnya aku gantian gendongnya sama Dijay, hahaha.Habis keliling akhirnya balik lagi deh ke masjidnya, pada tidur lah. Paginya udah rame aja, pada antri mandi sebelum sholat ied, aku dapet giliran paling akhir, alhasil telat sholat iednya --"
Habis sholat, yang paling ditunggu nih, nyembelih hewan korban, pagi itu kakak kelas 2010 pada njenguk, dari situ mulai banyak kenal sama angkatan atas. Aku lupa habis itu pada ngapain, kayanya nungguin  masakan mateng, terakhirnya tuh evaluasi panitia doang terus pulang deh. Sekian part 1 nya, tunggu part 2 nya masbroo...

Hari-hari yang ditunggu akhirnya datang juga, yak inilah IMSTC (Indonesia medical students training & competition) yang diadakan oleh AMSA. Inilah tujuanku masuk AMSA, bisa ikutan lomba poster dan bisa go nasional :D
Oyeah, tapi sebelum ke nasional, ada local competition dulu nih, yang ngadain kompetisi dari divisi SCIENCE AMSA UGM. Untungnya kita dapet training dulu sebelum ikutan kompetisi, jadi dapet pencerahan buat bikin posternya, tema imstc tahun ini adalah COMMON TRAVELER DISEASE, nah ide buat posterku ini tentang pentingnya cuci tangan, kan dari blok 1.1 kita udah diajarin cara cuci tangan yang bener oleh WHO, nah melalui poster yang aku buat ini harapannya para traveler bisa terhindar dari penyakit2 yang biasanya mereka dapet, kaya meningitis, diare, hepatitis, dll. Karena salah satu prevensi dari traveler disease yang ada di jurnal adalah HAND HYGIENE, sekalian promosi slogannya RS. Sardjito, salam tangan bersih : 5-6 pasti !
Oiya kan ini kerja tim, nah di timku ada Yodi sama Amek, beruntunglah dapet temen se-tim yang pinter desain juga. Apalagi ada Yodi yang bahasa inggrisnya joss banget, nilai toefl aja 650, pas banget soalnya bikin abstrak pake UK English.
Nah terus posternya ini aku bikin pas aku lagi liburan di Malang, ya lumayanlah ngisi waktu luang sembari nyelesen proyek ini. Software yang kupakai cuma photoshop sih, alesannya kenapa, biar lebih realistis gitu, hehe, meskipun tren desain jaman sekarang lebih ke flat.
Jadi ide posternya tuh gini, kan di tengah tuh ada piring yang diatasnya ada kue Bagel yang superlezat dengan taburan meses, haha, nah aku bikin kuenya bentuk huruf gitu, jadinya kebaca TRAVEL, ya kan ibaratnya itu kaya cemilan yang enak buat para penggemar melancong. Nah di bawahnya kan ada gambar tangan, tangan kiri itu bisa diliat ada tulisan macem2 penyakit traveler, karena banyak banget kan ya bakteri yang numpuk di tangan kita kalo habis nyentuh sesuatu yang ga bersih, apalagi kita gemar travelling, jadi koleksi kebun bakteri dari bermacam spesies deh, nah makanya itu ada tangan kanan maksudnya buat ngajakin biar pada gemar cuci tangan, kan ada gambar sabunnya tuh, tambah ada efek stroke warna putihnya, kesannya biar bersih aja sih, kalo dibanding yang tangan kiri yang warnanya item itu. Terus ada kata2 juga kan di tengahnya, itu salan tangan bersihnya sardjito sih, tapi aku bingung nulisnya soalnya harus pake english, ya jadinya kaya gitu deh. Terus diatasnya ada kalimat ajakan juga, Choose Your Right Choice, ga ngerti juga sih tiba2 kepikiran kalimat ini.
Nah biar orang sekali liat langsung kepikiran cuci tangan, tulisan RIGHT nya aku gedein dan aku kasih warna beda sendiri, jadi yang nonton langsung liat ke arah kanan, di kanan kan ada si tangan bersih nan higienis, jadinya yang pertama kepikiran harapannya adalah poster tentang HAND HYGIENE. Itu aja sih idenya, sebenernya simpel kok. Tinggal nunggu hasil pemenang 3 besar local competition nih yang bakal diumumin besok sabtu tgl 18 januari, semoga lolos deh ya, karena.., ya passionku masuk AMSA ya emang disini, pengen bisa mengharumkan nama AMSA juga soalnya.
Itu baru poster bikinanku, yang bikinan Yodi gatau deh kaya gimana, dia bikin sendiri dan pas injury time pengumpulan jadinya aku belum liat kaya gimana posternya, ya moga aja poster tim kami bisa masuk 3 besar local deh, amin :D

re:
oke jadi setelah pengumuman minggu kemarin, ternyata posterku nggak lolos ke 3 besar local competition, ya awalnya agak kecewa sih tapi ya gapapa lah ya yang penting udah usaha maksimal, mungkin kurang idenya ato kurang bagus desainnya, hehe, tetep semangat buat diri sendiri, masih ada kesempatan tahun depan kok ;D

Contact Form

Name

Email *

Message *

Translate